Friday 19 October 2012

Kelebihan Antar Golongan (1)

Pendahuluan

Negeri ini mengalami berbagai macam masalah, selama beberapa tahun terakhir. Seolah tak kunjung usai. Bencana alam, masalah-masalah sosial, kepercayaan diri, dan banyak lagi masalah bisa diberikan untuk memperpanjang daftar yang sudah ada.

Semua masalah itu tak kunjung usai, dan bahkan mungkin semakin memburuk, ketika seseorang atau sekelompok organisasi mengusulkan sebuah pemecahan. Mengapa sebuah pemecahan justru malah membuat keadaan semakin buruk? Karena orang lain akan memberikan komentar mereka, menilai usulan dari kelompok pertama tak akan membuahkan hasil, dan merasa pendapatnya lebih baik dan lebih memberikan solusi.

Di tengah-tengah suasana seperti itu, salah seorang putra negeri, Buya Hamka, pernah menulis satu tulisan yang menurut saya penting untuk sama-sama diketahui oleh siapa pun yang peduli dengan nasib negeri ini. Buya Hamka menuliskan pandangannya, dalam bagian tafsir Al-Azhar Juzu' III, pada bagian yang membahas tentang ayat ke-253 surat al-Baqarah (surat ke-2) di dalam al-Quran. Tulisan beliau disampaikan di blog bukan dengan niat untuk membajak hak cipta atau melanggar hak cipta Buya Hamka dengan tafsirnya. Tulisan ini sengaja disampaikan di sini karena apa yang beliau tulis di sana saya pikir sangat penting dan relevan dengan kondisi yang sekarang terjadi.

Tulisan Buya Hamka disampaikan dalam empat seri, dimulai dari bagian pertama ini. Semoga apa yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kita semua.

Tafsir

"Rasul-rasul itu, Kami lebihkan sebahagian mereka daripada yang sebahagian." (pangkal ayat 253).

Macam-macamlah kelebihan Rasul-rasul itu dijadikan oleh Tuhan, sehingga tidaklah sama keadaan mereka, sebab tidak pula sama keadaan ummat yang mereka hadapi.

Seumpama Daud dan Sulaiman itu, dilebihkan Tuhan mereka dengan menjadi raja, sedang Nabi-nabi yang lain tidak ada yang menjadi raja. Nabi Nuh dilebihkan dengan panjang usianya, Nabi Musa dilebihkan dengan tongkatnya, Nabi Ibrahim dilebihkan dengan perkembangan keturunannya, dan lain-lain sebagainya. Martabat mereka itupun dilebihkan pula yang sebahagian daripada yang sebahagian.

"Di antara mereka ada yang berkata-kata Allah kepadanya." Sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat di dalam al-Quran, yaitu Nabi Musa a.s. Dan demikian juga Nabi kita Muhammad s.a.w. seketika beliau dipanggil Mi'raj, berkata-kata juga Tuhan terhadapnya. Tetapi tidaklah dapat kita mengaji lebih dalam bagaimana cara berkata-kata itu sebab sudah mengenai hal yang ghaib. Dapatlah dibaca pada Surat as-Syura (Surat 42 ayat 51), bahwasanya Allah Ta'ala menyampaikan titah kepada Rasul-rasulNya itu tidak lebhi daripada tiga cara, pertama dengan menurunkan Wahyu, kedua dari belakang dinding (hijab), ketiga dengan mengutus Malaikat.

Menurut pendapat setengah ahli tafsir, Tuhan bercakap dengan RasulNya yaitu dengan Musa dan Muhammad s.a.w. itu ialah dengan cara yang kedua, yaitu dari belakang dinding (hijab), sebab seketika beliau kembali dari Mi'raj, Abu Zar bertanya adakah dia dapat melihat Tuhan, beliau menjawab tidak dapat dia melihat Tuhan karena didinding oleh Nur belaka, Nur yang berlapis-lapis. Bahkan Jibril utusan istimewa Ilahi tidak dapat melihat Tuhan, tersebab dinding Nur itu juga.

Lalu dilanjutkan bunyi ayat "Dan Dia tinggikan derajat setengah mereka." Sebagai derajat yang telah dicapai oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. sebagai penutup dari sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dipanggil mi'raj ke tempat yang tertinggi dan pulang kembali dengan selamat. Dalam hal membangun cita-citanya di dunia inipun dilebih ditinggikan derajatnya. Dia berpindah dari Makkah ke Madinah, dan sebelum dia meninggal sempat juga dia merebut negeri Makkah itu kembali. Sedang Nabi Musa setelah menyeberangkan Bani Israil dari Mesir ke Tanah yang dijanjikan, beliau telah meninggal sebelum Bani Israil dapat dibawanya ke negeri yang dijanjikan itu. Nabi Isa Almasih tidak kuat menentang kekuasaan bangsa Romawi, sehingga dengan halus beliau berkata: "Berikanlah hak Allah kepada Allah dan hak Kaisar kepada Kaisar." Sedang Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan kekuasaan yang nyata, menurut istilah sekarang de facto dan de jure, yang belum dikebumikan jenazah beliau sebelum diangkat pengganti beliau dalam pimpinan kekuasaan duniawi, untuk menegakkan perintah Tuhan. Bahkan belum sampai 20 tahun setelah beliau wafat, khalifah-khalifah beliau telah dapat menundukkan dua buah kerajaan besar pada masa itu, yaitu kerajaan Romawi dan kerajaan Persia.

"Dan telah Kami berikan beberapa keterangan kepada Isa anak Maryam dan Kami sokong dia dengan Ruhul-Qudus." Diri beliau sendiri adalah sebagai keterangan yang hidup dari kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sebab lahirnya ke dunia tidak menuruti jalan biasa itu.

Maka berikutlah keterangan-keterangan yang lain, sebagai menyembuhkan orang sakit, menyalangkan mata orang yang telah buta, bahkan menghidupkan orang yang baru saja meninggal dunia. Semuanya dengan izin Allah. Dan Isa Almasih itu disokong oleh Ruhul-Qudus, yaitu Roh yang suci sebagaimana tersebut juga di dalam Surat an-Nahl (Lebah), yaitu surat 16, ayat 102, bahwa Nabi kita Muhammad s.a.w. pun disokong dengan Ruhul-Qudus. Roh yang suci, bahkan segala Rasul disokong dengan Roh yang suci. Maka bagi kita pemeluk Islam, Roh yang suci itu bukanlah sebagian daripada tiga Tuhan, tetapi makhluk yang diciptakan Allah jua adanya.

Demikianlah di antara banyak Rasul Tuhan, tiga orang Rasul utama telah diisyaratkan Tuhan dalam ayat ini, yaitu Musa yang telah diajak Tuhan bercakap, Muhammad yang mencapai derajat tertinggi dan Isa Almasih yang membawa banyak keterangan. Bagaimanapun kenyataan perselisihan di antara pengikut ketiga Rasul itu namun ketiga ajaran beliau telah menuntun pertumbuhan rohaniah dalam alam dunia ini.

Pada ayat ini Tuhan jelaskan bahwa Dia melebihkan sebahagian Rasul daripada yang sebahagian, tetapi kepada kita manusia tidaklah disuruhkan supaya melebihkan seorang Rasul dan mengurangkan martabat yang lain. Tuhan telah mengajarkan kepada kita dalam ayat 136 yang telah lalu, dan juga nanti pada ayat penutup dari Surat al-Baqarah ini (ayat 285), bahwa kita ummat ini tidaklah membeda-bedakan Rasul. Maka sikap kita kepada sekalian Rasul Allah adalah laksana sikap kita ketika melihat bintang-bintang berkelap-kelip cahayanya di tengah malam. Kita telah mengerti bahwa bintang-bintang itu tidak sama letaknya, ada yang lebih tinggi, dan ada yang lebih tinggi lagi. Namun bagi kita yang melihat dari bumi, semuanya sama tingginya.

Pada lanjutan ayat bersabdalah Tuhan: "Dan kalau Allah menghendaki tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang sesudah mereka, akan tetapi mereka telah berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan itu."

Ayat ini menerangkan suatu kenyataan yang selalu kita saksikan baik dalam sejarah yang telah lalu, atau sejarah jaman sekarang atau selanjutnya. Yaitu bahwa petunjuk Tuhan telah datang. Kita selalu mengharap bahwa Tuhan itu akan membawa persatuan ummat manusia, sebab sumbernya hanya dari satu tempat, yaitu Allah. Ajaran sekalian Rasul itu, kalau digali-gali sampai kepada hakikatnya, hanyalah ajaran yang satu juga. Kita ambil isi Kitab-kitab Suci, sejak dari Taurat, Mazmur atau Zabur, Injil sampai kepada al-Quran, diambil sarinya, akan bertemu hanya satu ajaran, yaitu tentang adanya yang Maha Kuasa. Sebab itu kalau Allah menghendaki tidaklah akan terjadi berbunuh-bunuhan karena perbedaan agama. Meskipun misalnya berbagai-bagai nama yang diberikan Allah itu, ada yang menyebutnya Yehovah, Aloha, Brahman atau Allah atau Tuhan, isi hati ketika mengucapkannya hanyalah satu, yaitu mengungkapkan tentang Zat Yang Maha Kuasa. Tetapi bagaimana dalam kenyataan? Di dalam segala agama terdapat kejadian yang sama. Sesudah Rasul-rasul meninggal terjadilah perselisihan, bahkan sampai berbunuh-bunuhan.

Lanjutkan membaca bagian kedua di sini.

No comments: