Thursday, 5 November 2009

Wahai SBY, Bertindaklah!

Wahai presidenku, mengapa engkau seolah tuli mendengar hiruk pikuk ini? Kami menanti mendengar dirimu mengeluarkan perintah pengunduran diri bagi para pejabat yang terlibat korupsi. Dua hari sudah kami menanti, mengapa kau membisu? Apakah gelombang teve tidak dapat diterima di Cikeas? Apakah istana Cikeas menjadi menara gading bagi dirimu?

Wahai presidenku, kami memberikan amanat bagimu untuk memimpin negeri ini. Kami percaya padamu. Tapi kepercayaan kami perlahan semakin memudar melihat kebisuanmu beberapa hari ini. Mengapa seorang Prita dipenjara dan kasusnya diusut begitu terperinci hanya karena dia menuliskan sepotong keluhan? Mengapa seorang Anggodo masih bisa bebas padahal begitu banyak bukti yang menyudutkan dirinya? Apakah permohonan maaf seorang Anggodo kepada dirimu karena dia telah menyebut-nyebut dirimu tidak cukup menjadi bukti keterlibatan besar Anggodo?

Nalar kami tak sampai, nurani kami hanya nurani rakyat yang memohon keadilan tegak di negeri ini. Mungkin diriku pun akan mendapatkan perlakuan tak adil hanya karena menuliskan semua ini. Seperti inikah keadilan yang tegak di bawah kepemimpinanmu?

Wahai SBY, bertindaklah! Jika dirimu tidak berani, ingatlah, rakyat ada di belakangmu mendukungmu!

Wednesday, 4 November 2009

Pertanda II

Heboh.

Ternyata negeri di tempat cak Luri tinggal penuh dengan para bedebah. Dalam badan penegak hukum ada bedebah. Dalam badan peradilan ada bedebah. Mereka, para bedebah busuk itu, bersiasat memenjarakan orang-orang jujur. Dengan siasat yang mereka buat, mereka ingin orang jujur dipenjara, para bedebah berpesta pora.

Beberapa saat sebelum hebohnya kemunculan nama-nama para bedebah, negeri cak Luri digoncang beberapa kali gempa bumi.

Mendengar dan membaca pemberitaan tentang para bedebah hari ini saja sudah membuat dada cak Luri ingin meledak. Kepalanya tak habis pikir bagaimana mereka bisa tega dengan anak-anak jalanan yang gentayangan setiap hari di bawah terik matahari untuk sekedar mengganjal perut-perut mereka yang lapar. Sementara para bedebah mengatur makarnya dalam ruangan sejuk, dalam kendaraan mewah, dengan alat komunikasi keluarang paling baru.

Memikirkan para korban gempa bumi yang masih perlu mendapat perhatian dengan bantuan untuk bertahan hidup, membuat pikiran cak Luri menghubung-hubungkan gempa bumi sebagai pertanda bagi para bedebah busuk. Mungkin gempa bumi yang beruntun mengguncang negerinya membawa suasana yang membuat para bedebah busuk kehilangan akal, sehingga makar mereka terbongkar.

Nalar cak Luri tahu, tak ada hubungan logis antara rentetan gempa bumi dengan terbongkarnya nama para bedebah busuk. Tapi nalar Anggodo Widjojo lebih nggak masuk akal lagi waktu meminta maaf agar dia dan keluarganya dikasihani.

Sampeyan iku ora didukung rakyat, kok malah njuluk dikasihani. Ngerti ora?

Monday, 2 November 2009

Pancasila Ada Lima (Kata)

Pancasila cuma ada lima kata.

Merah Putih harus terus berkibar!

KPK dan Sindrom Amnesia

Kasus KPK sedang panas-panasnya di Indonesia. Siapapun pengin tahu perkembangan terakhirnya kayak gimana.

Sebelum kasus KPK mencuat, kita ngomongin apa aja sih?

Gempa Sumatera Barat? Lupa.

Bursa pemilihan menteri kabinet? Lupa.

Teroris Noordin M. Top terbunuh? Lupa.

Hari Pahlawan? Lupa.

Friday, 30 October 2009

Mahalnya Kursi

Salah satu komoditi paling mahal di kota Jakarta, Indonesia, adalah kursi. Buktinya orang selalu memperebutkan kursi, baik itu dalam arti harfiah maupun arti konotatif.

Cobalah lihat perebutan kursi calon legislatif di gedung DPR/MPR Senayan, setiap lima tahun sekali. Tengok juga perebutan kursi bangku di sekolah-sekolah favorit setiap periode bulan Juli - Agustus.

Kalau menunggu satu atau lima tahun dianggap terlalu lama, cobalah tengok setiap hari di angkutan umum Jakarta, terutama pada saat jam-jam berangkat kerja, terlebih lagi jam-jam pulang kerja. Begitu ada bis kosong, langsung diserbu oleh penumpang yang seperti kehausan ingin merasakan sejuknya kursi kosong.

Di stasiun kereta Tanah Abang, Jakarta Selatan, pemandangan perebutan kursi kosong di kereta api selalu bisa dinikmati setiap hari kerja. Tanpa permisi kepada orang yang sudah lebih dulu duduk, banyak orang yang main seradag-serudug langsung duduk di sela-sela kursi yang masih kosong, kadang kala membuat orang yang sudah lebih dulu duduk tertindih dengan hentakan keras.

Ini dia salah satu hal yang mulai punah di Jakarta, dan pelan-pelan semakin menghilang ditelan egoisme warganya. Bagaimana tidak semakin egois, kalau mereka semakin tenggelam dari hari ke hari di dalam gelombang update status fesbuk.

Thursday, 22 October 2009

Setelah Rame-rame Pake Batik

Setelah batik rame-rame kita pake, apalagi berikutnya?

Jangan sampe getuk lindri, pecel lele, bakso malang, dan masih banyak lagi yang lain diklaim lagi sama negara tetangga.

Mari kita sadar budaya. Kebudayaan Indonesia itu kaya!

Wednesday, 7 October 2009

To Celebes

Girardi went to Sulawesi, attending his aunt Riva's wedding. He met with relatives of grandpa. Mom said Girardi was very excited since he woke up right after checkin in to the airport.

This is his first time on a flight. Surely he likes to travel very much. As well as his mom.