Friday, 14 August 2009

Kompetisi Roket Indonesia

Sejak dua tahun terakhir, Lapan mengadakan Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) untuk mahasiswa. Kira-kira.. ke depannya Indonesia bakal dicap negara teroris nggak sama Amerika ya.. kan roket punya potensi buat jadi senjata.

Monday, 6 July 2009

Kisruh DPT, dan Peran Serta Kita

Dua hari lagi bangsa Indonesia akan menjalankan Pemilihan Presiden yang kedua kalinya, jika tidak ada halangan. Sepanjang tahun 2009 ini, diadakan dua kali pemilihan. Pemilihan pertama dilaksanakan bulan April lalu, untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di Dewan Perwakilan Rakyat dan DPR Daerah. Bulan Juli ini, pemilihan kedua dilangsungkan, untuk memilih pemimpin Indonesia masa bakti 2009-2014.

Pada bulan April lalu, pelaksanaan pemilu bukan tanpa masalah, dan menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden tanggal 8 besok, masalah yang sama kembali berulang. Ini masalah tentang DPT (Daftar Pemilih Tetap).

Seharusnya, DPT memuat semua warga negara Indonesia yang punya hak suara untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Namun banyak masalah ditemui dari segi pendataannya. Banyak kasus di mana satu orang terdaftar dua kali (atau bahkan mungkin lebih) di dalam DPT. Tentu ada juga yang justru haknya tak terpenuhi, namanya sama sekali tidak masuk dalam DPT. Kasus yang menurut saya lebih parah adalah kasus di mana orang yang sudah meninggal dunia masih terdaftar sebagai pemilih tetap. Tapi itu masih belum seberapa sih, dibandingkan daftar calon legislatif di bulan April lalu, yang memuat satu atau dua nama orang almarhum untuk dipilih sebagai wakil rakyat di DPR/DPRD.

Banyak yang mengajukan usul agar DPT dibenahi dulu sebelum Pilpres besok dilangsungkan. Dipikir-pikir ya wajar saja ada permintaan seperti ini. Soalnya kan kasihan saudara-saudara kita yang semustinya punya hak suara tapi tidak teraspirasikan hanya gara-gara namanya tidak tercantum dalam DPT. Ada sebagian lagi yang mengusulkan agar mereka yang namanya tidak ada di DPT, tetap dapat memilih dengan menunjukkan kartu identitas mereka, yang di Indonesia dikenal dengan istilah KTP (Kartu Tanda Penduduk).

Menurut saya, kisruh DPT pada pemilihan umum disebabkan oleh andil masyarakat sendiri. Jadi semustinya ribut-ribut yang terjadi sekarang tak perlu dipermasalahkan. Semuanya terpulang kepada diri kita masing-masing.

Begini penjelasannya. Coba lihat teman-teman kerja anda di kantor, terutama bagi anda yang bekerja di Jakarta. Berapa banyak dari teman-teman anda itu yang memiliki KTP dua atau lebih? Satu KTP Jakarta, satu lagi KTP kampung halamannya, biasanya begitu. Kadang masih ditambah lagi dengan KTP tempat dia tinggal. Misalnya, seseorang berasal dari satu daerah di luar Jawa. Tinggal di kota-kota sekeliling Jakarta (Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi). Bekerja di Jakarta. KTP kampung halaman ada sendiri, KTP tempat tinggal juga ada, KTP tempat kerja pun ada.

Pengalaman saya pribadi nyata-nyata terjadi. Waktu saya pindah domisili, saya sempat melapor ke Ketua Rukun Tetangga tempat tinggal saya yang baru. Waktu itu saya menyerahkan salinan KTP dan Kartu Keluarga. Seolah seperti hal yang lumrah, pak RT waktu itu bilang sama saya, "Nanti kalo pak Anung mau bikin KTP sini, bilang aja sama saya."

Saya ganti tanya, "KTP yang lama masih berlaku nggak pak?"

"Masih berlaku."

Jadi artinya saya bakal punya dua KTP toh?

Konsekuensinya dengan pemilihan, berarti saya punya hak memilih dua kali, seandainya pemilihan bisa dilaksanakan dengan menunjukkan KTP sebagai bukti identitas. Yang salah siapa?

Sebetulnya saya juga memikirkan hal yang aneh berkaitan dengan pendataan DPT ini. Mustinya kan data DPT ini bisa sekaligus digunakan sebagai Sensus Penduduk. Setidaknya warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas, akan terdata dengan akurat jumlahnya ada berapa. Sayangnya saya melihat sebagian kita memandang Sensus Penduduk tak ada manfaatnya buat rakyat.

Kalau dihubungkan dengan bencana, mungkin kita bisa berpikir lebih panjang.

Coba bayangkan tanggal 8 Juli besok bukan perhelatan Pemilihan Presiden. Coba bayangkan sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi, gempa bumi massal misalnya. Katakanlah seluruh kota besar di Indonesia akan digoncang gempa tanggal 8 Juli besok. Saya tahu ini terlalu mengada-ada. Tapi coba pikirkan apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah ketika tiba saatnya mengalirkan bantuan bencana alam kepada kita-kita ini, rakyat jelata.

Berapa tepatnya jumlah penduduk di Jakarta yang perlu diberi bantuan? Apakah bisa akurat kalau kita punya dua atau tiga KTP?

Jadi menurut saya, bagi mereka yang protes gara-gara namanya tidak terdaftar dalam DPT, cobalah ambil cermin dan lihat isi dompet kalian. Lihat apakah ada KTP ganda di sana. Kalau mau punya hak suara, mbok ya ikut serta aktif dengan memberikan jumlah anggota keluarga kita ada berapa ke kelurahan setempat.

Kita ini cenderung menyalahkan orang lain. Kita pengen supaya staf Kelurahan keliling ke rumah-rumah untuk mendata ada berapa individu yang tinggal di setiap rumah. Apa nggak lebih enak kalau kita sama-sama ikut aktif, sekali-kali datang lah ke Kelurahan. Toh hanya lima tahun sekali menengok seperti apa suasana di sana.

Mungkin malah ketemu tetangga belakang rumah yang selama ini nggak pernah ketemu gara-gara sibuk pergi pagi pulang malam bekerja di Jakarta. Mungkin malah bisa membuka kesempatan bisnis baru karena ketemu saudara-saudara yang lain.

Friday, 26 June 2009

Another Blog of Recipes (in Bahasa)

When I put feedjit statistic on this blog, I figured out that my blog was gaining many access by people who was interested in Indonesian food recipe. I am not specializing in recipe collection, because I myself am not into cooking. I don't know how to cook, unless for several simple food like nasi goreng, tempe goreng, bubur, and some "pour-and-mix" foods.

What I actually did is just made an entry, which has a link to "Resep Masakan Mbakyu" in there.

Now I have another link for a blog of food recipes, written mainly in Bahasa Indonesia. This blog is owned by my friend Siti Rohmah.

Since I don't really into cooking, I kindly ask you to just go to her blog rightaway.

Wednesday, 24 June 2009

Belajar dari Star Wars dan Star Trek

Trilogi film Star Wars punya alur cerita yang menarik, setidaknya bagi sebagian orang. Aku termasuk ke dalam orang yang tertarik dengan alur ceritanya. Sedari kecil, fantasi tentang kehidupan di luar angkasa seringkali menghiasi dunia khayalku sebagai seorang kanak-kanak. Di samping tentu saja, aku suka semua hal yang berkaitan dengan astronomi.

Untung, akhirnya aku nggak kuliah di jurusan astronomi. Aku ternyata jatuh cinta sama dunia informasi yang rupanya jauh lebih menarik bagiku.

Kembali tentang Star Wars, trilogi film ini bukan hanya menarik dari sudut pandang jalan ceritanya. Menurutku setidaknya ada aspek lain yang bisa diambil pelajarannya dari trilogi film ini.

Seri film Star Wars bukan hanya terdiri atas tiga judul film ternyata. Masih ada tiga judul lagi yang lain. Yang menarik, film yang dibuat pertama kali bukan lah film yang mengawali seluruh rangkaian cerita. Pada tahun 1977, film pertama yang dibuat dan dirilis oleh George Lucas justru film yang menceritakan kejadian di tengah-tengah rangkaian cerita.

Di tahun 2009 ini, kejadian yang serupa terjadi pada seri film Star Trek. Di tahun ini dirilis satu judul film yang menceritakan tokoh Spock dan Kirk ketika mereka masih belia. Padahal sudah puluhan film Star Trek dibuat, dengan berbagai cerita yang menarik penuh fantasi dan khayalan futuristis, sekaligus humanis.

Apa yang menarik dari proses pembuatan film di kedua seri ini? Bahwa kita dalam berkarya tak perlu harus mulai dari awal sekali. Apa yang bisa kita lakukan, mulai saja dari sana.

Agar lebih mudah dipahami, saya berikan satu contoh. Katakanlah anda berkeinginan menjadi seorang penulis. Impian anda salah satunya adalah agar dunia mengenal nama anda. Anda ingin terkenal sebagai seorang penulis.

Masalahnya anda tak punya segala hal yang diperlukan untuk menjadi penulis terkenal. Jangankan komputer, mesin ketik manual pun anda tak punya. Lalu apa yang bisa anda lakukan?

Mulai saja dari apa yang bisa anda lakukan. Modal utama anda adalah waktu. Selama anda masih bisa menghirup udara, dan jantung anda masih berdegup, lakukan sesuatu. Anda bisa mulai menulis dengan menggunakan kertas-kertas bekas misalnya. Topik apa saja, tulislah. Apa yang bisa anda kritisi dan komentari, tulislah.

Waktu yang masih tersedia dapat anda manfaatkan untuk berlatih, berlatih, dan berlatih. Setelah selesai berlatih, latihan lagi, latihan, latihan, dan latihan lagi. Anda tak harus mulai dari awal sekali, anda bisa mulai dari tengah cerita, bahkan mungkin anda bisa memulainya dengan menuliskan sesuatu yang menjadi akhir cerita besar anda.

Tuesday, 23 June 2009

Aku Berjanji..

Suasana di Indonesia beberapa hari belakangan ini sungguh tidak enak. Pertama, hawanya memang sedang panas. Kadang hujan turun begitu lebatnya, bikin lalu lintas jadi lumpuh. Hebat emang Jakarta ini euy.. kota metropolitan, tapi bisa dilumpuhkan hanya dengan hujan lebat sesaat. Dijamin!

Kedua, hawa politik juga makin bikin perut mual. Panas mungkin iya, tapi itu masih bisa tertahankan. Bikin mualnya itu lho yang nggak nahan.

Capres si Anu janji mau membela Aceh kalo kepilih jadi Presiden. Kenapa musti janji sih? Kenapa nggak langsung aja dibela dari sekarang? Ada lagi yang kocak-nggak-lucu bin angkuh. Dia bilang kalo kepilih jadi Presiden, nggak akan ada lagi di Indonesia yang namanya bencana alam. Emangnya dia Tuhan? Ada lagi yang bilang, ikut lomba polo berkuda itu bisa mengangkat harga diri bangsa. Uang banyak lebih baik dipake buat ngebayarin ongkos melihara kuda polo. Mmm.. harga diri bangsa bisa naik padahal sebagian besar kita masih kelaparan? Kok bisa ya? Yang naik harga dirinya itu siapa sebenernya? Orang-orang yang ikut naik kuda polo atau jejongos yang pagi-pagi udah bangun nyapuin debu-debu jalan Jakarta?

Nggak tahu deh hari ini bakal denger janji muluk apa lagi dari mereka. Capek aja dengernya. Sejauh ini sih gue niat pengen ikut pilpres bulan Juli nanti. Kriteria gue gampang aja. Siapa yang nggak ngumbar janji, itu yang gue pilih. Capek cuma denger janji pas kampanye doang. Bikin perut mual lihat muka mereka.

Maka dengan ini kunyatakan, wahai para legenda negeri ini! Aku Berjanji tak akan memilih pasangan Capres-Cawapres yang bikin janji muluk-muluk.

Eh.. omong-omong, mengingat kasus Prita tempo hari, siapa tahu dengan menulis tulisan ini gue tiba-tiba di-Prita-kan. Ya sudah lah. Kalo emang begitu, makin nggak respek lah gue dengan orang yang mem-Prita-kan diriku. La wong nggak terbuka sama kritik, ngapain gue pilih jadi Presiden?

Proyek Triliunan, Dijual Kiloan


I really like this one. Although it really shows how bad the mental condition of Indonesian people. As an Indonesian, of course I feel ashamed.

Where are we Indonesian going on?


Monday, 22 June 2009

Minuman Diuretik dan Stroke

Dalam posting Wisnu tentang Stroke, kami sempat bertukar informasi perihal pencegahan dan penanggulanan Stroke. Pengennya sih nggak kena penyakit ini, makanya faktor-faktor pemicunya perlu dibahas supaya kita semua tahu. Dengan begitu kita bisa melakukan pencegahan.

Tapi kalo ternyata pada akhirnya kena stroke juga, maka kita juga perlu tahu gimana cara menanggulanginya. Makanya itu juga perlu dibahas.

Buat yang belum kena stroke, dan nggak pengen kena stroke, atau paling nggak mencegah sebisa mungkin dari resiko kena stroke, ini ada satu tips.

Hindari minuman diuretik.

Apa itu minuman diuretik? Minuman ini adalah cairan yang kalo kita minum, malah memicu tubuh kita untuk mengeluarkan urine. Apa aja yang termasuk ke dalam kelompok minuman diuretik? Dua jenis yang paling akrab dengan kita adalah Teh dan Kopi.

Coba deh perhatiin sekali-sekali, kalo pagi-pagi kita minum kopi atau teh, frekuensi membuang urine pasti lebih besar daripada kalo kita nggak minum kopi atau teh.

Terus, apa sih hubungannya dengan stroke? Secara medis, stroke itu terjadi karena ada penyempitan pembuluh darah di otak. Kok bisa begitu? Salah satu penyebabnya adalah karena cairan darah kita lebih kental daripada biasanya, sehingga aliran darah tidak senormal biasanya. Karena lebih kental, artinya aliran darah lebih lambat.

Miriplah seperti sungai yang penuh dengan sampah kira-kira. Lambatnya aliran darah ini bisa juga meninggalkan zat-zat yang kental tadi di sepanjang pembuluh darah. Kira-kira mirip juga dengan sampah yang kita sering lihat nyangkut di sungai-sungai yang kotor.

Penumpukan sampah otomatis juga lama-kelamaan membuat saluran pembuluh darah mengecil. Akibatnya aliran darah juga makin lama malah makin lambat lagi. Dan ketika aliran darah di pembuluh otak semakin lambat, pasokan oksigen ke sel-sel otak menjadi terganggu. Ketika ada sel otak yang tidak mendapatkan pasokan oksigen, terjadilah apa yang kita sebut dengan stroke itu.

Nah, dengan mengkonsumsi minuman diuretik, kita justru membuang cairan dari dalam tubuh kita. Akibatnya tentu tubuh kita 'lebih kental' karena kekurangan cairan. Untuk mengantisipasinya, secara alamiah tubuh kita mengambil cadangan air dari.. you guess what?
cairan darah dan otak. Why oh why? Because dua komponen tubuh itu lah yang paling banyak mengandung cairan dalam tubuh manusia.

To make the story short, pada akhirnya yang jadi korban ya kita sendiri. Tubuh kekurangan cairan, darah kita lebih kental dan semakin kental, dan berujung pada stroke.

Jadi, untuk mengurangi resiko terkena stroke, kurangilah minum kopi dan teh. Atau minuman diuretik lainnya. Perbanyaklah minum air putih. Saran dari seorang teman, dia sering minum air putih sekurang-kurangnya dua gelas setelah sarapan, dua gelas setelah makan siang, dan dua gelas setelah makan malam. Insya Allah ditambah setidaknya dua gelas lagi di luar tiga waktu itu, kecukupan minimal air putih yang disarankan delapan gelas per hari akan terpenuhi.

Selamat banyak minum air putih, dan selamat terhindar dari stroke!