Thursday, 2 February 2006

SPAM, Spam, spam...

Satu lagi contoh e-mail spam yang mendarat di Inbox yahoo.com. Waktu dilihat, yang ngirim alamat e-mailnya jacksung004@msn.com. Begitu diklik tombol reply, di textbox To: yang keluar jacksung2006@yahoo.pl.


Ini header asli waktu dibaca di Inbox:

From: "Jack Sung" Add to Address BookAdd to Address Book Add Mobile Alert
Subject: For your kind atten:
Date: Wed, 01 Feb 2006 13:09:49 +0000


Ini waktu diedit pas abis ngeklik tombol reply:

To: jacksung2006@yahoo.pl
Subject: Re: For your kind atten:


Anyway, ini entry blog emang bukan murni hasil kreasi gue sih, tapi paling nggak, ada entry baru lah yang bisa dibaca. He.. he..

--- Jack Sung wrote:

> I am Mr.Jack Sung,
> credit officer of the Dah Sing Bank Ltd.
> I have a concealed business suggestion for you.
>
> Before the U.S and Iraqi war, our client General. Hassan Fazi who was
> with
> the Iraqi forces and also business man made a numbered fixed deposit
> for18
> calendar months, with a value of Fourty Three Million,Six Hundred
> Thousand
> United State Dollars only in my branch.
>
> Upon maturity several notice was sent to him, even during the war
> early this
> year. Again after the war another notification was sent and still no
> response came from him. We later find out that the General and his
> family
> had been killed during the war in bomb blastthat hit their home.
>
> After further investigation it was also discovered that Gen. Hassan
> Fazi did not declare any next of kin in his official papers including
> the
> paper work of his bank deposit. And he also confided in me the last
> time he
> was at my office that no one except me knew of his deposit in my
> bank. So,
> Fourty Three Million,Six HundredThousan United State Dollars is still
> lying
> in my bank and no one will ever come forward to claim it.
>
> What bothers me most is that according to the to the laws of my
> country at
> the expiration Eight years the funds will revert to the ownership
> of the
> Hong Kong Government if nobody applies to
> claim the funds.
>
> Against this backdrop, my suggestion to you is that I will like you
> as a
> foreigner to stand as the next of kin to Gen.Hassan Fazi so that you
> will be
> able to receive his funds.
>
> WHAT IS TO BE DONE:
>
> I want you to know that I have had everything planned out so that we
> shall
> come out successful.
>
> I have contacted an attorney that will prepare the necessary
> documents that
> will back you up as the next of kin to Gen.Hassan Fazi ,all that is
> required from you at this stage is for you to provide me with your
> Full
> Names and Address so that the attorney can commence his job.
>
> After you have been made the next of kin,the attorney will also fill
> in for
> claims on your behalf and secure the necessary approval and letter of
>
> probate in your favor for the move of the funds to an account that
> will be
> provided by you.
>
> There is no risk involved at all in the matter as we are going adopt
> a
> legalized method and the attorney will prepare all the necessary
> documents.
>
> Please endeavor to observe utmost discretion in all matters
> concerning this
> issue.Once the funds have been transferred to your nominated bank
> account we
> shall share in the ratio of 70% for me, 25% for you and 5%for any
> expenses
> incurred during the course of this operation.
>
> Should you be interested please send me a mail for easy
> communication,and i
> will provide you with more details of this operation.
>
> Your earliest response to this letter will beappreciated.
>
> Kind Regards
>
> Mr.Jack Sung
>
>
>

Thursday, 26 January 2006

Dan Lalu lintas pun jadi Lancar

Hari Senin yang lalu (23 Januari 2006) saya terjebak macet parah di daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dalam waktu 1 jam, bis umum yang saya tumpangi hanya bisa maju sejauh 500 meter.

Selepas daerah perempatan Republika-Warung Buncit, lalu lintas masih padat, namun tidak separah di daerah Ragunan. Padahal kalau diperhatikan volume lalu lintas yang lewat di kedua daerah itu kurang lebih sama.

Kira-kira sudah hampir berjalan 3 bulan ini, polisi lalu lintas rajin mengadakan razia terhadap para pengendara motor yang melintas di jalur cepat di ruas jalan Warung Buncit - Mampang Prapatan. Ketika pertama kali razia dilakukan, kalau saya tidak salah ingat sekitar akhir bulan Nopember 2005 yang lalu, banyak pengendara motor yang 'terjebak' oleh jebakan razia para petugas. Para polisi itu siap berdiri di jalur cepat, 'menangkap basah' para pengendara motor yang lewat di sana.

Sekitar awal bulan Januari, efeknya mulai terasa. Ruas jalan Warung Buncit - Mampang Prapatan mulai lancar walaupun volume kendaraannya tidak banyak berubah. Yang lebih terasa adalah pada kejadian hari Senin itu. Walaupun volume kendaraan cukup besar (ditambah dengan suasana hujan yang biasanya cukup efektif untuk memacetkan jalanan ibukota), tapi ternyata lalu lintas di Warung Buncit tetap lancar.

Semoga saja para pengemudi yang lewat di sana belajar dari fakta ini, bahwa kalau kita mau tertib antri, jalanan jadi lancar. Kok antri sih? Ya iya dong ah, berlalu lintas di jalan raya itu kan mirip dengan antri, bedanya kita boleh menyusul kalau memang kendaraan di depan kita berjalan lambat. Tapi yang penting dipahami adalah di jalan raya, kita tidak boleh memotong jalur!

Kebiasaan memotong jalur muncul dari keinginan sebagian pengendara untuk 'lebih cepat sampai' di tempat tujuannya. Karena ingin cepat sampai, mereka sering berjalan zig-zag memotong jalur, yang secara tidak langsung memotong jalur sesama pengendara lain. Akibatnya justru kemacetan bertambah parah.

Sayangnya, kesadaran berkendara para pengemudi motor khususnya, tampak tidak sepenuhnya dipahami dengan baik. Buktinya, selepas daerah Warung Buncit - Mampang Prapatan, perilaku buruk memotong jalur pun kembali dijalankan. Buktinya daerah Ragunan di hari Senin itu jadi macet parah. Kalau diperhatikan, kemacetan hari Senin itu terjadi karena para pengendara motor dengan seenaknya memotong jalur kendaraan lain di perempatan Jati Padang, perempatan Ragunan - jalan Arteri, dan pertigaan Mangga Besar.

Para pengendara motor ini lebih merasa 'takut kena tilang' begitu mulai memasuki kawasan Warung Buncit.

Ah..beginilah wajah manusia-manusia Indonesia. Semoga saja tulisan ini bisa dibaca banyak pengendara motor, terutama yang sering lewat di kawasan yang sering kena macet parah. Belajarlah kalian dari disiplin lalu lintas di kawasan Warung Buncit - Mampang Prapatan.

Tapi, kalau kalian masih mau kena macet ya nggak apa-apa, silahkan saja teruskan kebiasaan memotong jalur orang lain. Toh yang kena akibatnya juga kalian sendiri kan?

Monday, 16 January 2006

Perubahan Beban

Buat para pemirsa, mohon maaf kalau selama hampir dua bulan ini tidak ada postingan blog (ciehh.. kayak gue udah yakin aja ini blog banyak pembacanya).

Event tahun baru nggak ada blog. Event Idul Adha juga nggak ada blog.

Sebentar lagi Imlek sama Muharram. InsyaAllah ada blogs baru.

Sementara ini, saya posting satu topik dulu (setidaknya buat mengobati rasa penasaran temen gue si Juwi yang udah nanya kok nggak ada blog baru selama ini)

Here it is...

Kata orang, beban 1 kilogram yang sama nggak akan berubah jika kita angkat pake tangan selama 1 hari dari pagi sampe sore. Bebannya nggak nambah, nggak berkurang. Yang berubah justru tangan kita yang dipake buat ngangkat itu beban. Makin lama makin capek (Silakan coba kalo masih nggak percaya juga, atau kalau anda suka melakukan eksperimen kecil-kecilan).

Hal yang sama juga berlaku kalau bebannya bukan berbentuk fisik. Misalnya beban pikiran. Biar gampang ngebayanginnya, saya ambil satu contoh: Kapan pindah kerja? Suasana kerja di kantor udah nggak nyaman lagi. Tapi mau pindah kerja kesempatan belum ada.

Kalo beban itu dipikirin 1 hari, mungkin masih nggak apa-apa. Satu minggu juga mungkin masih baik-baik aja. Tapi kalo solusinya (baca: kesempetan pindah) nggak dapet-dapet juga, dan kita masih mikirin, otak kita mulai capek dong ah.

Kembali ke contoh soal beban 1 kg. Gimana caranya supaya tangan kita nggak capek? Kalo udah capek ya istirahat. Lepasin dulu itu beban. Taruh di lantai atau di atas meja. Abis itu kita istirahat dulu. Minum biar badan seger. Kalo perlu minum susu biar tangan kita besok pagi kuat lagi ngangkat beban.

Alternatif lain: Biar tangan kita nggak capek, berbagilah. Minta bantuan temen deket buat mbantu kita ngangkat beban. InsyaAllah tangan kita nggak secapek kalo kita ngangkat beban itu sendiri.

Kembali lagi ke contoh soal Pindah Kerja. Kalo kesempetan pindah kerja belum dapet, sementara suasana di kantor makin ndak nyaman, istirahat dulu lah. Take it easy aja. Tapi ya jangan terlalu pasrah dong ah. Dipikirkan pelan-pelan. Kalo mau ambil solusi mengistirahatkan otak, rajin-rajinlah berdoa. Perlahan-lahan pikirkan solusi apa yang bisa diambil.

Kalo mau ambil solusi alternatif, bicarakanlah masalah Pindah Kerja itu dengan temen deket. Siapa tau si temen deket punya adek / kakak / temen / tetangga yang lagi buka lowongan kerja di tempat lain.

Sampe di sini, ada hal yang menarik: Siapa bilang chatting itu nggak produktif? Dengan chatting, kita memperbanyak teman. Banyak teman, besar pula kemungkinan kita bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan jawaban masalah kita (sekian kepala yang berfikir lebih baik daripada 1 kepala). Emang sih, sekilas chatting itu mengurangi waktu kerja di kantor. Tapi kan dengan chatting, beban emosional karyawan justru berkurang. Makin produktif lah karyawan karenanya.

Jadi, jangan berburuk sangka dulu deh sama orang yang rajin pake fasilitas kantor buat chatting.

BTW, gue juga mau cari profesi baru neh. Buat nambah2 penghasilan, lebih bagus kalo jadi penghasilan sampingan yang utama (pengennya pekerjaan kantor malah gue jadiin penghasilan sekunder he he). Kalo ada yang punya info kasih komentar di sini yah :D

BTW 2: mohon maaf buat para penggila bahasa Indonesia yang baik dan benar, di artikel ini gue makin banyak aja pake kata-kata yang ndak baku. Mohon maap.. bukannya gue nggak menghormati bahasa negeri sendiri.. tapi maap.. yang penting nyambung bo'!

Wednesday, 4 January 2006

Anung Ariwibowo's invitation

Anung Ariwibowo has invited you to join their mobile friends network.

You can reconnect with old friends, exchange messages with millions of people worldwide or share your photos with family and friends.

Simply click on the link below to accept Anung's invitation.
http://reg.sms.ac/registration/Intro.aspx?InviteId=juuyl3i10g005kxp9j1j56e6pyo48q12869oo1pta2c1uk1rdb&ss=0&r=10

Don't want to be invited by your friends or family?
Click on the link above to "block future invitations" from family and friends.

SMS.ac, Inc., 255 G Street #723, San Diego, Ca 92101 USA

Thursday, 15 December 2005

Kapan?

Pertanyaan dengan lima huruf itu sudah sering diajukan kepadaku.

Kapan?

Biasanya aku menjawab, “Sebentar lagi..”

Atau kujawab, “Insya Allah tahun depan.”

Atau, “Secepatnya.”

Atau lagi, “Tunggu aja, InsyaAllah dikasih tau deh kalo udah dateng saatnya.”

Dalam hati aku bertanya-tanya, belum pernah aku menjawab “Tidak tahu.” Padahal kan umur tidak ada seorang pun yang tahu. Coba pikir, mana sempat seseorang memberi tahu orang lain ketika dia sedang sekarat menanti ajal? (“Insya Allah dikasih tahu kalo udah saatnya.”)

Apapun, sekarang giliran saya bertanya, “Kapan?”

Tapi, tidak seperti kebanyakan pertanyaan kapan, saya lebih spesifik bertanya. Kalau hanya bertanya kapan, bisa macam-macam jawabannya, tergantung pemahaman orang yang ditanya. Siapa tahu orang yang ditanya sedang sibuk menyelesaikan tugas kuliah, maka ketika ada orang bertanya “Kapan?” kepadanya, dia bisa menjawab, “Aku nggak bisa ngerjain tugas kuliah dari pak Fulan nih. Susah banget dia kasih tugas.”

Jadi, supaya nggak membingungkan, saya bertanya, “Kapan Anda terakhir kali menulis dengan pena?”

Di jaman modern ini, di mana friendster dan google jadi perbendaharaan kata sehari-hari, orang lebih sering menulis menggunakan papan-bidai. Kalau mahir mengetik 10-jari, aktiflah jari-jarinya bergerak menari-nari. Tapi kalau cuma bisa 11-jari, ya hanya sebelas jari itu saja yang makin berotot.

Ketika pasca-bayar dan voucher menjadi kosa kata sehari-hari, orang menulis bahkan hanya bermodalkan jari jempol saja. Untung saja Allah sudah mendesain ibu jari manusia itu lebih gemuk daripada jari-jari yang lain. Jadi insyaAllah ketika menulis es-em-es jari jempol kita nggak bakalan kurus.

Buat konsultan ay-ti (baca: IT), bisa jadi kepiawaian menggunakan pena makin menurun. Kalau gajinya cukup besar untuk apply kartu kredit, paling-paling pena hanya mampir di tangan ketika menandatangani slip kartu kredit waktu belanja di pasar swalayan atau mol.

Dengar-dengar ada perangkat lunak pemrograman yang betul-betul mengandalkan tetikus (baca: mouse) saja. Wah.. kalau sudah begitu, bikin program seperti main game kali ya, just point, click, and drag.

Kenapa sih saya mempermasalahkan soal tulis-menulis dengan pena? Simpel aja sih.

Adik-adik (atau anak-anak kalo yang udah punya anak) kita di sekolah toh belajar menulis pake pensil dulu. Baru setelah di kelas tiga SD mereka boleh pake pena. Dipikir-pikir, kasihan aja kalo ada anak yang minta diajarin bapak-ibunya nulis, ternyata orang tuanya lebih mahir menulis dengan jempol.

Buat yang masih sering memanfaatkan jasa angkutan umum, pasti pernah ditawarin abang-abang yang jualan pena. Kasian aja liat mereka cari nafkah dengan cara halal tapi dagangannya nggak laku-laku lantaran kita lebih milih nulis pake kibor (baca: keyboard) komputer. Padahal orang-orang kaya nggak perlu bersusah-susah dagang bolpen di jalanan berdebu ibu kota untuk bisa jadi kaya (teganya!)

Sebelum saya akhiri, saya pengen tahu (survey nih ceritanya) kapan sih terakhir anda menulis dengan pena? Maksud saya di sini bukan sekedar menulis satu atau dua kalimat. Minimal satu halaman kertas folio.

Berikan jawaban anda dengan cara menuliskan (kali ini boleh pake kibor komputer) comment di bawah entri blog ini. Selambat-lambatnya.. ah.. tak usahlah pake deadline. Deadline di kantor udah cukup bikin pusing, nanti saya malah bikin pusing anda-anda kalo pasang deadline juga di sini.

Saya tunggu komentarnya ya!

Monday, 14 November 2005

Re: [e-Journal Piawai Menulis] 11/11/2005 05:41:51 PM

--- Dodol Surodol <renatha@gmail.com> wrote:

Halo Surodol! Apa kabarnya dikau? Sudah lama kita tak berjumpa. Di
manakah dikau gerangan berada sekarang?

---------------------------------
Yak, setuju sekali dengan Kakak Anung ini.

--
Posted by Dodol Surodol to e-Journal at 11/11/2005 05:41:51 PM


__________________________________
Yahoo! FareChase: Search multiple travel sites in one click.
http://farechase.yahoo.com

Friday, 11 November 2005

Piawai Menulis

Once upon a time.. berkumpullah Tura dan kawan-kawannya di dunia saiber. Dalam ruangan konferensi maya (virtual room conference). Tura dan kawan-kawannya ngobrol ngalor-ngidul. Sekedar mengenyahkan rasa jenuh dari rutinitas pekerjaan di kantor. Saking ngalor ngidulnya mereka ngobrol, akhirnya topik pembicaraan nyerempet-nyerempet ke masalah WebLog. Ramailah suasana ruang konferensi dengan berbagai pendapat tentang Blog. Akhirnya Tura dan kawan-kawannya menyimpulkan satu hal (jadi setidaknya ada satu hal positif dari perbincangan maya ngalor-ngidul itu). Masing-masing peserta konferensi sepakat untuk membuat blog-nya masing-masing dan setiap mereka wajib mencantumkan link ke blog milik peserta konferensi yang lainnya.

Walhasil, Tura pun kemudian menindaklanjuti hasil perbincangan maya tadi dengan membuat sebuah WebLog di blogger.com. Tak terasa masa sudah terlewat beberapa bulan. Dan sampai saat ini bisa terlihat di antara peserta konferensi tadi siapa yang paling gemar menulis.

Perkara menulis memang tidak semudah seperti tampaknya. Ketika orang melihat penerbitan buku-buku cerita di toko buku yang semakin banyak saja dari hari ke hari, kebanyakan orang melihat menuliskan berbagai cerita sebagai hal yang mudah. Tapi buat orang yang tidak terbiasa, bisa memulai menuliskan kalimat pertama saja sudah menjadi sebuah prestasi besar.

Fenomena Blog buat Tura setidaknya bisa membantu hasrat terpendamnya untuk menorehkan kata, kalimat, dan ide dalam bentuk tulisan. Tak perlu tergantung kepada penerbit mana pun. Jika Tura punya ide, dia sesegera mungkin meraih pena dan kertas (atau membuka perangkat lunak pengolah kata di komputer terdekat) dan segera menuliskan ide-ide yang riuh rendah mengisi kepalanya dalam bentuk tulisan. Sebelum ide-ide tadi pergi dan kembali membuat kepala Tura kembali sunyi sepi. Sebelum Tura lupa apa yang pernah terlintas di dalam kepalanya.

Sebelum ada Blog, hasrat menulis Tura betul-betul terpendam. Saking terpendamnya itu hasrat, Tura sering merasa malas untuk sekedar menyalakan komputernya di rumah dan menuliskan rumpian ide yang numpang lewat di dalam kepalanya. Seringkali setelah komputernya menyala, Tura bukannya menulis tapi malah main game. Atau menulis prosa yang hanya dimengerti oleh kompilator komputer (dan terciptalah banyak program-program komputer kecil yang tidak terlalu bermanfaat).

Alhamdulillah kebiasaan Tura untuk mudah teralihkan perhatiannya ketika menyalakan komputer sudah mulai berkurang sekarang. Jadi dia lebih aktif menulis sekarang. Dan dia senang karena tulisannya tidak perlu disunat di sana-sini oleh editor penerbit. Karena tulisannya bisa langsung dia terbitkan di blognya sendiri (bedanya, di blog semuanya serba gratis. Sampe-sampe Tura juga nggak dapet uang sepeserpun dari kegiatannya menerbitkan tulisan di Blog).